Kamis, 11 Juli 2019

Degradasi Moral Pada Zaman Kali menurut Hindu






Gusmangrasta -  Agama Hindu adalah agama tertua yang ada di muka bumi ini. dikatakan demikian karena ajarannya yang akan terus relevan mengikuti perkembangan zaman sampai kapanpun. dalam ajarannya Hindu selalu mengutamakan kedamaian kepada setiap umatnya, serta mengamalkan ajarannya dengan mempersembahan apapun isi alam semesta kepada Tuhan dengan perasaan yang tulus ikhlas.
dalam ajaran Hindu mahaluk ciptaan tuhan digolongkan menjadi tiga bagian yaitu
Ekapramana (tumbuhan) "bayu" hidup
Dwipramana (binatang) "sabda + bayu" bicara dan hidup
Tripramana   (manusia) "sabda + bayu + Idep" bicara + hidup+ pikiran
manusia yang memiliki pikiran (idep) maka kita sangat di haruskan untuk menghargai sesama ciptaanya dengan perasaan cinta kasih.

Dalam Ajarannya Hindu terdapat sangat banyak konsep yang harus dijadikan pedoman dalam membentuk karakter dan prilaku manusia agar selaras dengan adab sehingga manusia akan tetap memiliki budhi luhur yang selalu berbakti serta selalu ingat akan keberadaannya didunia ini adalah karena Tuhan sebagai sang pencipta. ajaran Hindu juga mengajarkan bahwa kita hidup didunia ini hanya bersifat sementara, karena pada dasarnya semua mahluk yang hidup pasti mati.
Menurut Hindu ada 4 masa yang akan terus berganti mengikuti perkembangan alam semesta diantaranya adalah :
1. Kertayuga merupakan zaman kedamaian, pada masa ini tidak ada prilaku atau perbuatan adharma walau hanya dalam pikiran. (manusia patuh terhadap ajaran" agama dan berbakti terhadap Tuhan).
2. Tertayuga merupakan masa kedua pada catur yuga, pada masa ini manusia mualai dikotori oleh suatu kejahatan untuk menghancurkan manusia lainnya.
3. dwaparayuga merupakan masa ketiga pada catur yuga yang mana pada masa ini manusia sudah mulai berwatak dua artinya pada masa ini manusia memiliki sebagian kebaikan dan sebagiannya lagi adalah kejahatan.
4. kali yuga ditinjau dari arti katanya merupakan masa kebalikan dari kertayuga . oleh karna itu pada masa ini kita akan banyak melihat prilaku manusia yang tidak bermoral, tidak beradap, dan tidak lagi mengutamakan kebaikan.



ciri zaman kali yuga dalam kitab bhagawata purana
1.       dalam bhagavata purana 12.3.25 menyatakan bahwa prilaku manusia cenderung akan semakin rakus, berprilaku jahat, tidak lagi ada belas kasihan terhadap orang lain. bertengkar dengan orang lain tanpa alasan yang jelas. diliputi keinginan material dengan cara apapun(curang,licik) mayoritas tergolong sudra, serta tidak beradab.
2.       bhagavata purana 12.3.30 menyatakan bahwa prilaku orang-orang suka melakukan kegiatan tipu menipu,berbohong,malas dalam hal kerohanian, banyak tindak kekerasan, kebingungan, ksecemasan, ketakutan dan kemiskinan merajalela.
3.       dalam bhagavata purana 12.2.1 bahwa pada zaman kali yuga Dharma ( agama) dan keempat prisnsipnya yaitu (satyam) kejujuran, (saucam)kesucian diri,(ksama) kesabaran,(daya) kasih sayang, akan merosot dari hari kehari karena pengaruh buruk kali yuga.



karena banyak konsep Hindu yang dapat kita jadikan pedoman dalam membentuk prilaku baik, bagian inilah yang menjadi acuan dasar setiap orang tua dalam mendidik anak anaknya dengan harapan agar memiliki prilaku yang baik.
Ajaran Hindu yang dapat kita jadikan acuan dalam membentuk prilaku diantaranya adalah :
1. Trikayaparisudha
·         Berfikir yang baik (manacika)
·         Berkata yang baik (wacika)
·         Berbuat yang baik (kayika)





Tri kaya parisuda adalah Ajaran hindu yang sangat sistematik dalam membentuk prilaku yang baik. pada dasarnya semua perkataan dan perbuatan diawali oleh proses berfikir yang memberikan stimulus responsif untuk mengerakan organ organ manusia seperti bibir, tangan, kaki dan organ lainnya. maka dari itu sebelum melontarkan kata kata sebaiknya kita menyaring kata kata tersebut dalam pikiran apakah ketika diucapkan kata tersebut akan menyinggung atau menyakiti perasaan otang lain atau tidak. kemudian "dalam berbuat" sebelum kita berbuat sesuatu tentu kita harus saring perbuatan tersebut dalam pikiran yang mana tujuannya adalah dapat mempertimbangkan perbuatan kita agar tidak berakibat celaka seperti melukai diri sendiri atau orang lain.


2. Sapta timira berasal dari bahasa sanskerta yang terdiri dari dua suku kata "sapta" berati Tujuh"timira" berarti Kegelapan,Suram,Awidya. sapta timira adalah tujuh kegelelapan/ unsur yang menyebabkan pikiran menjadi gelap dan mabuk. Dalam kitab kekawin niti sastra dinyatakan 7(tujuh) unsur yang dapat menyebabkan seseorang menjadi mabuk diantaranya adalah:

·        surupa (kecantikan atau ketampanan ) merupakan anugarah Sang Hyang Widhi berikan kepada seseorang sejak lahir, anugrah tersebut seharusnya diimbangi dengan prilaku positif yang dapat mengangkat nalai positif mereka. namun yang terjadi pada zaman kaliyuga sekarang ini adalah banyak prilaku perempuan cantik yang melakukan tindak adharma dengan cara menjual dirinya hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan biologisnya.
·        Dhana (berarti memiliki kekayaan), dalam memperoleh dhana hendaknya kita lakukan dengan usaha dan kerja keras yang diiringi dengan banyak berdoa kehadapan Tuhan. yang terjadi saat ini adalah banyak orang memperoleh kekayaan dengan cara yang licik dan curang seperti korupsi dan hal terkonyolnya lagi adalah dengan cara mendatangi makam keramat untuk ritual (Pesugihan)
·       guna (kepandaian) kepandaian merupakan sebuah hasil dari karma kita selama proses brahmacari"mengenyam ilmu pendidikan, itu juga merupakan anugrah yang Tuhan berikan karena kerja keras dan usaha kita. namun dawasa ini sangat banyak terjadi suatu tindak prilaku adharma yang menggunakan kepandaiannya untuk menipu orang lain seperti calo tiket pesawat, jual beli rumah, investasi dan masih banyak lagi modus penipuan karena kepandaiannya dalam mengolah kata agar dapat membuat korbannya mudah percaya begitu saja.
·        kulina(keturunan) keturunan memang sangat menentukan berasal dari keluarga manakah seseorang, bisa dari golongan raja,artis,pejabat dll. tapi dangan hal ini keturunan juga dapat menyebabkan dalam masalah jika mengakui keturunan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. masalah yang terjadi saat ini adalah seseorang mengakui bahwa dirinya keturunan raja yang masih harus dipertanyakan diamana kerajaan dan sisilah garis keturunannyapun harus diamati kembali untuk membuktukan kebenarannya. initinya seseorang mengakui sebagai keturunan seorang raja atau orang berpengaruh  hanya untuk mendapat penghormatan terhadap orang lain disekitarnya.
·       yohana (masa remaja) pada masa ini hendaknya kita selalu dalam lingkungan yang postif seperti melakukan aktifitas keagamaan. pada masa kaliyuga ini para remaja akan mudah bergejolak pikirannya, sehingga hal tersebut harus di pertimbangkan kembali agar tidak mempengaruhi prilakunya kearah yang baik atau buruk. prilaku pada masa remaja sangat di tentukan oleh lingkungan luar karena sa remaja pikirannya dapat dengan mudah untuk ingin tau suatu hal tanpa menilai sifat baik/buruknya hal tersebut.
·        sura (minuman keras) dalam upacara agama hindu minuman keras selalu di persembahkan kepada bhuta kala dengan makna agar sang bhuta tidak lagi mengganggu proses jalannya upacara yang sedang dilaksanakan. namun pada zaman kaliyuga diindonesia sekarang ini banyak anak anak muda yang mulai terpengaruh budaya luar negri yang suka kumpul dan berpesta minuman keras yang mana sebagian besar dari mereka sadar betul bahwa minuman tersebut berbahaya bagi kesehatannya.


Sangat banyak ajaran hindu yang mengulas tentang hal yang dapat kita jadikan acuan berprilaku baik dalam kehidupan pada zaman kali yuga sekarang ini, pentingnya mengelola prilaku kita saat ini adalah upaya untuk membiasakan diri kita agar tidak mudah terpengaruh dengan orang lain yang tidak patut dicontoh. Tampak jelas bahwa zaman kali yuga ini etika dan moral tidak lagi tercermin, terutama pada anak remaja milenial yang memiliki prilaku seperti binatang liar akibat terlalu bebasnya bergaul dikota kota besar dengan kelompok yang salah. bahkan mereka lebih extrim dan brutal memperlakukan orang lain yang berada di luar kelompoknya tanpa rasa kasihan dan rasa berasalah. ada konsep hindu yang menjelaskan bahwa sebagai manusia kita hendaknya harus merangkul anatara satu dengan yang lain, karena agama hindu menganggap semua mahluk adalah satu kesatuan keluarga besar yang sama sama memiliki tujuan hidup yang sama yaitu untuk melayani tuhan yang bersemayam dalam diri sendiri/mahluk lainnya yang lebih rendah. Tat Twam Asi adalah sebuah ajaran yang menekankan kepada semua manusia bahwa kita semua bersaudara atau sama dengan istilah yang biasa digunakan oleh orang maluku( suku ambon) katong basudara.
Panca Yama Brata adalah suatu prilaku hidup positif yang sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mengendalikan dan mengarahkan kita menuju kebaikan dan kebenaran. berikut pembagian dan pembahasan dari panca yama brata.



1.       Ahimsa ( tidak menyakiti,menyinggung, membunuh, orang lain dengan perkataan atau perbuatan yang dapat menyiksa mahluk lain) beberapa waktu lalu atau bahkan sekarang masih banyak kabar mengenai gengster yang ada dikawasan DKI Jakarta, beberapa diantaranya masih berusia di bawah umur. mereka hanyalah korban dari pergaulan yang secara sengaja atau tidak membuat mereka terpaksa ikut bergabung kedalamnya tentu saja semua itu terjadi karena kurangnya pendidikan moral yang diberikan oleh pihak guru serta kurangnya pengontrolan guru bagaimana prilaku siswanya sekolah. peranan orang tua juga sangat penting untuk membina anaknya agar prilakunya tidak menyimpang seperti meneror masyarakat dengan senjata tajam berupa parang,celurit,samurai dll. hal tersebut adalah bukti ketidak mampuan orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak anak merka, kurangnya perhatian dan ketegasan dalam menerapkan disiplin pada anak sejak usia dini.




2.       Brahmacari (tekun dan rajin menimba ilmu pengetahuan dan teknologi) pentingnya memberikan pelajaran kepada anak pada zaman kaliyuga ini sangat penting, karena orang tua juga seharusnya dapat melihat perkembangan pola pikir anak mereka sudah sejauh mana kedewasaan anak sangat berefek kepada prilakunya suatu saat, dengan begitu anak akan mudah dalam membedakan mana hal yang baik dan tidak baik untuk di lakukan.

3.       Satya ( kesetiaan,kejujuran, ketaatan, kebenaran) kejujuran adalah kunci utama untuk bisa sukses dalam mencapai apa yang kita inginkan. terutama pada zaman kalyuga ini mencari seseorang yang pintar banyak! tapi mencari yang jujur sangat jarang sekali kita temukan oleh karena itu orang tua hendaknya selalu melatih kejujuran anak mereka. caranya sebagai contoh membiarkan uang tergeletak ditempat yang sering dilewatinya ketika uang hilang orang tua pun juga harus tegas dengan memberikan hukuman yang membuat dia kapok dan tidak ingin melakukan perbuatannya lagi.


4.       Awyawaharika (tidak adanya keterikatan terhadap dunia material)hal lah yang seharusnya dilakukan oleh orang tua sekarang! sisi positifnya adalah agar anak dapat lebih fokus dalam menimba disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. tetapi apa yang dilakukan orang tua sekarag lebih menyuguhkan teknologi seperti gadget kepada anaknya bahkan tidak jarang anak anak balitapun menjadi korban orang tuannya dengan alasan agar tidak rewel padahal dampaknya fatalnya akan mempengaruhi perkembangan otaknya.

5.       Asteya (tidak melakukan pencurian) pada masa pendidikan peranan guru dan orang tua sangat berpengaruh terhadap anak anak mereka. mendidik moral mereka dan membentuk nilai dalam diri mereka yang suatu saat akan mereka jual menjadi bakat kompetensi mereka yang dapatkan dari pendidikan.


               


Nama Ida Bagus Komang persada
Nim : 1609.10.0043
Semester 6
Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

Tugas UAS jurnalistik
Dosen Pengempu :
Yan Mitha Djaksana, S.KOM.,M.Kom





sumber:

https://hindualukta.blogspot.com › Pendidikan
https://hindualukta.blogspot.com/2018/07/ciri-ciri-zaman-kali-yuga-menurut-kitab.html
https://dharmadefender.wordpress.com/2010/05/20/panca-yama-bratha/
https://paduarsana.com/2012/08/08/empat-zaman-dalam-hindu-catur-yuga/


Kamis, 25 April 2019

Kegiatan uts mahasiswa STAH DNJ




Hari ini tepatnya tanggal 25 april 2019 telah berlangsung kegiatan uts mata kuliah jurnalistik oleh mahasiswa STAH DNJ.

Yang diikuti oleh kurang lebih 25 orang. jumlah total dari keseluruhan merupakan gabungan antara semester 2 dan semester 6, hanya ada dua prodi yang  di kampus STAH diantaranya adalah pendidikan dan penerangan.

Pendidikan yaitu suatu jurusan yang mengarahkan mahasiswa untuk menjadi seorang tenaga pengajar saat mereka lulus.

Penerangan merupakan suatu prodi yang mengarahkan mahasiswa untuk menjadi seorang juru penerang atau penyuluh.

Kegiatan ini merupakan upaya pihak dosen untuk mengetahui sudah sejauh mana pemahaman mereka terkait materi yang sudah diajarkan selama 6 bulan di berikan.

Suasana kelas terlihat sangat hening karena keseriusan setiap mahasiswa dalam mengisi soal uts dengan sangat teliti dan hati hati.


STAH DNJ merupakan kepanjangan dari Sekolah Tinggi Agama Hindu, salah satu kampus yang ada di daerah jakarta timur lebih tepatnya jl. Jatiwaringin raya no 24 jatiwringin jakarta timur.






Created by: ida bagus Komang persada
     Nim : 1609.10.0043
STAH DHARMA NUSANTARA JAKARTA
Mata kuliah: Publik Jurnalis
Dosen Pengempu: Yan Mitha Djaksana M.Kom

Rabu, 24 April 2019






Kebijaksanaan memaknai cinta kasih


Cinta kasih adalah rasa bhakti kita terhadap Tuhan
Cinta kasih adalah bagaimana kita mengasihi orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun
Cinta kasihadalah benih dari kebahagiaan yang abadi
Cinta kasih adalah keadaan ikhlas terhadap apapun yang telah kita lalui
Cinta kasih adalah sradha/ iman yang dapat mengantarkan kita kepada kebahagiaan menuju Tuhan
Cinta kasih adalah harapan untuk dapat membuat hidup kita berguna bagi orang lain
Cinta kasih adalah kesederhanaan dalam menjalani kehidupan
Cinta kasih adalah pengorbanan 
Cinta kasih adalah pelayanan
Cinta kasih adalah kasih sayang kita terhadap orang terdekat kita
Cintakasih adalah hal yang dapat memberikan kita arti dari sebuah kehidupan
Cinta kasih adalah keindahan
Cinta kasih adalah segalanya

ada beberapa hal yang akan saya bahas mengenai cinta yaitu :

 1. mengapa cinta selalu di gambarkankan dengan bentuk dan gambar hati (love)?
 2. mengapa cinta bisa memberikan kita energi kehidupan?
 3. bagaimanakah cara meraih dan mendapatkan cinta?
 4. apakan perbedaan cinta dengan cinta kasih?


+++Bahasan+++
1. sudah menjadi kata yang terpadu antara cinta dan kasih. tentu makna kasih lebuh dalam dari pada cinta. dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai. cinta adalah perasaam kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu obyek. sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suatu obyek.
   

cinta selalu disimbolkan dengan bentuk hati karena dihatilah kita merasakan perasaan, ada dua perasaan yang selalu bertolak belakang sifatnya.

 1 : perasaan (+) adalah cinta, cinta selalu diidentikan dengan perasaan positif (yang baik) dengan perasaan senang dan bahagia.
 2 : perasaan (-) adalah benci, benci selalu diidentikan dengan perasaan negatif (yang buruk/tidak baik) bentuk dari perasaan benci adalah disebabkan karena ego yang bergejolak dalam pikiran mereka sehingga membuat hati lebih merasakan sakit dan menjadikan kita penuh dengan rasa dendam.
dapat kita simpulkan bahwa jika hati merasakan perasaan positif maka pikiran akan mersespon hati sehingga kita akan merasa senang dan bahagia. artinya perasaan positif tersebut jika kita tanamkan akan memicu hormon endorfin yang membuat kita menjadi lebih berenergi dalam menjalani kehidupan.
 benci , maka akan memicu perasaan negativ yang akan menyiksa pikiran dan hati kita, sehingga perasaan terbebani dan kita tidak ingin melakukan aktifitas apapun. kebencian datang karena kita tidak bisa mengontrol ego dalam pikiran kita.




        Cinta dapat memberikan kita enrgi kehidupan jika kita selalu menjalankan kehidupan dengan penuh positivisme. keyakinan / sradha dalam ajaran hindu ketiga menyatakan bahwa percaya terhadap adanya hukum karma pahala itu ada. jadi jika kita menebarkan persaan cinta terhadap sesama mahluk ciptaannya maka karma itulah yang akan memberikan energi kehidupan bagi kita.
        Cara  mendapatkan cinta adalah dengan menanamkan niat yang tulus, mengerjakan apapun yang kita kerjakan dengan rasa cinta tentunya. ingat dalam cinta hanya ada keikhlasan! jika mengerjakan sesuatu dengan mengharapkan imbalan itu bukan cinta tapi dusta.
cinta dan cintakasih (-+) ternyata perbedaannya terletak pada kesanggupan dan kemampuan memahami hakikat cinta kasih. adapun yang menjadi obyek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Ida Hyang Widhi Wasa. Tuhan yang maha esa. ciptaan tuhan dapat di golongkan dalam tingkatan sesuai existensinya atau kemampuan yauitu 
"eka pramana" ialah mahluk hidup yang memiliki satu kemampuan berupa Bayu/tenaga/hidup.
"Dwi pramana" ialah mahluk hidup yang memiliki dua aspek kemampuan berupa bayu/tenaga/hidup dan sabda/bicara (hewan dan binatang).
"Tri pramana" ialah mahluk hidup yang memiliki tiga aspek kemampuan berupa bayu, Sabda dan idep/pikiran hal inilah yang dimiliki oleh kita sebagai manusia.


Cinta adalah yang menyebabkan kita lahir kedunia ini untuk mendapat pelajaran hidup,
dengan pembelajaran dan pengalaman hidup, seiring waktu kita akan memahami apa itu Cinta kasih. dengan memahami apa itu cinta kasih maka kita akan melahirkan cinta yang baru yang merupakan hakikat cinta kasih itu sendiri untuk
keharmonisan hidup sebagai mahluk sosial yang menghormati alam serta menjaga alam itu sendiri dengan perasaan cinta kasih.

Rabu, 03 April 2019

PLURALISME DALAM HINDU



Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup secara individu karena manusia tidak seperti hewan yang ketika lahir langsung bisa berjalan. dan tentu saja kita berada dialam semesta disertai dengan berbagai macam perbedaan-perbedaan yang Tuhan ciptakan untuk Kita agar bisa saling melengkapi satu sama lain. manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki idep-(pikiran) maka kita harus menjadikan perbedaan sebagai keberagaman . Agama Hindu adalah agama yang sangat pluralisme karena mampu hidup secara berdampingan dengan budaya Hindu pada daerah yang berbeda-beda misalnya: Suku Jawa, Bali, Batak, Dayak, Banjar, Sunda, dll. pluralisme secara etimologi berasal dari bahasa inggris, terdiri dari dua suku kata (plural) = beragam dan ( isme ) = paham, ajaran agama Hindu kita sangat bersifat universal dan memiliki paham yang beragam dalam menjalankan dharma yang berbeda pada setiap daerah.
Agama Hindu adalah agama yang sangat mengenal toleransi terhadap sesama umat Hindu lainnya, dalam agama Hindu kita, sangat banyak ajaran ajaran tentang bagaimana cara kita menjalani kehidupan yang dilandasi dengan dharma, dalam Hindu kita juga mengenal dengan sebuah konsep Tat twam asi    : kamu adalah aku dan aku adalah kamu. kosep ini mengandung filosofi dan sudah terbentuk selama ribuan tahun silam, konsep ini juga lah yang menyebabkan kita semua sebagai mahluk social menjadi rukun. Jika kita mau sedikit meluangkan waktu untuk berfikir akan betapa besarnya kuasa Sang Hyang Widhi wasa yang menjadi unsur penyebab terciptanya alam semesta, maka kita akan mencapai pada hakikat yang sama dan merupakan tujuan dari pada setiap manusia yaitu untuk mencapai pembebasan dari ikatan duniawi atau biasa disebut dengan ( moksa ), moksa merupakan salah satu bagian terakhir dari panca sradha, ( lima hal yang harus kita yakini sebagai umat Hindu ) bersatunya atman dan brahman adalah inti dari tujuan akhir kehidupan kita .
Pengertian “ Tat Tvam Asi “  diatas dapat kita tarik makna bahwa brahman adalah atman itu sendiri. Kita ketahui bahwa sifat dari keduanya (brahman dan atman) adalah sama, (Imanen) tidak terpikirkan, tidak terbayangkan, tidak terbatas,dsb, yang membedakan brahman dan atman yaitu Atman merupakan percikan terkecil dari brahman. Namun atman yang sudah diliputi oleh badan kasar / unsur material akan terikat dengan ikatan duniawi, yang memunculkan ahamkara(ego). Sehingga kita sebagai manusia akan menumbuhkan perspektif yang berbeda bahwa aku dan kamu adalah berbeda disebabkan oleh ego yang bergejolak dalam pikiran manusia, namun di dalam perbedaaan tersebutlah kita sama sama memiliki atman yang menjiwai dan menyebabkan kita menjadi hidup. Jika di analogikan kita bisa mengibaratkan atman  sebagai butiran air hujan dan brahman sebagai air dilautan lepas. Setetes air hujan tidak dapat lagi kita bedakan ketika telah menyatu dengan air dilautan namum tetap hanya ada satu rasa yaitu asin. Analogi tersebut juga sangat mengingatkan kita untuk selalu menanam dan membibit pikiran kita, agar selalu mengangagap bahwa kita semua sebagai mahluk yang sama dan merupakan satu kesatuan yang berasal dari satu sumber kehidupan yang sama ( brahman ).
kita semua tahu bahwa brahman lah sumber dari segala kehidupan setiap mahluk yang ada di alam semesta. Brahmanlah penguasa tertinggi yang harus kita yakini sebagai umat Hindu. Brahman bersifat kekal tidak terpikirkan, tidak berwujud, tidak terbatas, tidak berawal dan tidak pula berakhir yang juga menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energy, alam semesta dan segala isi yang ada di dalamnya. Dari konsep diatas dapat kita tarik sumber hukum atau sastra seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita Adyaya X.20

Aham atma gudakesan Sarva-bhutasaya-stihtah
Aham adis ca madhyam ca Bhutanam anta eva ca.
Terjemahan :
Aku adalah sang diri yang ada dalam hati semua mahluk wahai gudakesa, aku adalah permulaan, pertengahan dan akhir dari mahluk semua.


Alam raya ini merupakan keseluruhan yang hidup kesaling terkaitan yang maha luas, keselarasan kosmis yang diresapi dan dihidupi oleh yang maha tinggi. Karena itupula kita sebagai sesama umat hindu yang berbeda budaya, suku ,dan ras golongan harus tetap memegang teguh konsep “Tat Twam Asi” sebagai prinsip dasar kita menjalankan dharma agar selalu hidup berdampingan dan meyakinkan diri kita bahwa badan kasar adalah sebatas wahana pendakian spiritual yang di yakini oleh umat hindu mulai dari lahir, hidup, dan mati.
Adakah landasan sastra  yang dapat menyatukan agama hindu dalam perbedaan?
Agama Hindu tentunya sangat menghargai perbedaan,karena dari perbedaan kita bisa saja menemukan hal yang baru dalam kehidupan, seperti cara kita melakukan pemujaan atau upacara ritual keagamaan pada daerah yang berbeda. Dalam hindu kita mengenal konsep Rwa Bhineda, yang sering ditentukan oleh faktor ruang desa,kala,patra. Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan suatu kebudayaan bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. agama Hindu merupakan agama yang ketiga terbanyak dunia dan dikenal memiliki sekte yang sangat banyak. Namun agama hindu adalah agama yang teguh dalam memegang konsep toleransi terhadap setiap sekte dalam hindu, hal tersebut disebabkan karena agama hindu mengakui satu tuhan dengan banyak nama. Selain itu Dalam tubuh agama Hindu, perbedaan pada setiap tradisi bahkan pada agama lain tidak untuk diperkarakan, karena ada keyakinan bahwa setiap orang memuja Tuhan yang sama dengan nama yang berbeda, entah disadari atau tidak oleh umat bersangkutan. Dalam kitab Regweda terdapat suatu bait yang sering dikutip oleh umat Hindu untuk menegaskan hal tersebut, sebagai berikut:
(Ekam Sat Viprāh Bahudhā Vadanti)
"Hanya ada satu kebenaran, tetapi para cendekiawan menyebut-Nya dengan banyak nama."

Agama Hindu memandang seluruh dunia sebagai suatu keluarga besar yang mengagungkan satu kebenaran yang sama, sehingga agama tersebut menghargai segala bentuk keyakinan dan tidak mempersoalkan perbedaan suatu tradisi. Agama Hindu bersifat mendukung pluralisme dan lebih menekankan harmoni dalam kehidupan antar-umat, dengan tetap mengindahkan bahwa tiap tradisi memiliki perbedaan mutlak yang tak patut diperselisihkan. Menurut tokoh spiritual Hindu Swami Vivekananda, setiap orang tidak hanya patut menghargai agama lain, namun juga merangkulnya dengan pikiran yang baik, dan kebenaran itulah yang merupakan dasar bagi setiap agama. Dalam ajaran Hindu, toleransi tidak hanya ditujukan pada umat agama lain, namun juga pada umat Hindu sendiri. Hal ini terkait dengan keberadaan beragam tradisi dalam tubuh Hinduisme. Agama Hindu memberikan jaminan kebebasan bagi para penganutnya untuk memilih suatu pemahaman dan melakukan tata cara persembahyangan tertentu. Seperti Pustaka suci kita Bhagavadgita Bab IV sloka 11 menjamin sebagai berikut:

Ye yathaa maam prapadyante Taamstathaiva bhajaamy aham
Mama vartmaanuvartante Manushyaah paartha sarvashah.
Artinya:
Bagaimana pun (jalan) manusia mendekatiKu, Aku terima, wahai Arjuna.
Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.


Bhiku Sasana Bodhi Tera mengibaratkan apapun sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin., dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa Yaitu rasa kebebasan dan kemahardikaan.

Rabu, 27 Maret 2019

Seminar Sarasehan Bintal TA 2019




Siang tadi tepatnya pada hari rabu tanggal 27 maret 2019. baru saja di gelar seminar sarasehan dengan judul " Melalui Sarasehan bintal kita perkokoh toleransi antar umat beragama guna meningkatkan kemantapan Ideologi Pancasila Untuk menangkal pengaruh Ideologi Radikal Dalam Rangka Terwujudnya Kehidupan Yang Rukun Damai dan Sejahtera " oleh TNI Angkatan Darat.

seminar tersebut berlokasi di aula phinaka wiratama Disbintalad, jl.Kesatrian VI no.1 berlan jakarta timur dan dihadiri oleh semua kalangan mulai dari anggota TNI AD, Ketua Bem STAH DNJ, Tokoh - Tokoh Agama dan masih banyak lagi.

kegiatan ini dilakukan dengan tujuan selain agar menambah wawasan kepada peserta yang hadir tentang bahayanya pengaruh ideologi radikal, juga menghimbau agar kita sebagai masyarakat indonesia harus tetap berpegang teguh kepada negara kita tercinta yang berideologi Pancasila.

dengan adanya seminar ini diharapkan informasi yang didapat kembali disebarkan kepada masyarakat tentang bahayanya pengaruh radikalisme yang berpotensi merusak dan dapat meruntuhkan NKRI sebagai negara besar akan mengikis kaum-kaum radikalisme diindonesia.

Degradasi Moral Pada Zaman Kali menurut Hindu

Gusmangrasta -  Agama Hindu adalah agama tertua yang ada di muka bumi ini. dikatakan demikian karena ajarannya yang akan terus rel...