Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup secara individu karena manusia tidak seperti hewan yang ketika lahir langsung bisa berjalan. dan tentu saja kita berada dialam semesta disertai dengan berbagai macam perbedaan-perbedaan yang Tuhan ciptakan untuk Kita agar bisa saling melengkapi satu sama lain. manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki
idep-(pikiran) maka kita harus menjadikan perbedaan sebagai keberagaman . Agama Hindu adalah agama yang sangat pluralisme karena mampu hidup
secara berdampingan dengan budaya Hindu pada daerah yang berbeda-beda misalnya:
Suku Jawa, Bali, Batak, Dayak, Banjar, Sunda, dll. pluralisme secara etimologi
berasal dari bahasa inggris, terdiri dari dua suku kata (plural) = beragam dan (
isme ) = paham, ajaran agama Hindu kita sangat bersifat universal dan memiliki
paham yang beragam dalam menjalankan dharma yang berbeda pada setiap daerah.
Agama Hindu adalah agama yang sangat
mengenal toleransi terhadap sesama umat Hindu lainnya, dalam agama Hindu kita,
sangat banyak ajaran ajaran tentang bagaimana cara kita menjalani kehidupan
yang dilandasi dengan dharma, dalam Hindu kita juga mengenal dengan sebuah
konsep Tat twam asi : kamu adalah aku dan aku adalah kamu. kosep
ini mengandung filosofi dan sudah terbentuk selama ribuan tahun silam, konsep
ini juga lah yang menyebabkan kita semua sebagai mahluk social menjadi rukun. Jika
kita mau sedikit meluangkan waktu untuk berfikir akan betapa besarnya kuasa
Sang Hyang Widhi wasa yang menjadi unsur penyebab terciptanya alam semesta,
maka kita akan mencapai pada hakikat yang sama dan merupakan tujuan dari pada
setiap manusia yaitu untuk mencapai pembebasan dari ikatan duniawi atau biasa
disebut dengan ( moksa ), moksa merupakan salah satu bagian terakhir dari panca sradha, ( lima hal yang harus kita
yakini sebagai umat Hindu ) bersatunya atman dan brahman adalah inti dari
tujuan akhir kehidupan kita .
Pengertian “ Tat Tvam Asi “ diatas dapat kita tarik makna bahwa brahman
adalah atman itu sendiri. Kita ketahui bahwa sifat dari keduanya (brahman dan
atman) adalah sama, (Imanen) tidak terpikirkan, tidak terbayangkan, tidak
terbatas,dsb, yang membedakan brahman dan atman yaitu Atman merupakan percikan
terkecil dari brahman. Namun atman yang sudah diliputi oleh badan kasar / unsur
material akan terikat dengan ikatan duniawi, yang memunculkan ahamkara(ego). Sehingga
kita sebagai manusia akan menumbuhkan perspektif yang berbeda bahwa aku dan kamu
adalah berbeda disebabkan oleh ego yang bergejolak dalam pikiran manusia, namun
di dalam perbedaaan tersebutlah kita sama sama memiliki atman yang menjiwai dan
menyebabkan kita menjadi hidup. Jika di analogikan kita bisa mengibaratkan atman
sebagai butiran air hujan dan brahman
sebagai air dilautan lepas. Setetes air hujan tidak dapat lagi kita bedakan
ketika telah menyatu dengan air dilautan namum tetap hanya ada satu rasa yaitu
asin. Analogi tersebut juga sangat mengingatkan kita untuk selalu menanam dan
membibit pikiran kita, agar selalu mengangagap bahwa kita semua sebagai mahluk
yang sama dan merupakan satu kesatuan yang berasal dari satu sumber kehidupan yang
sama ( brahman ).
kita semua tahu bahwa brahman lah
sumber dari segala kehidupan setiap mahluk yang ada di alam semesta. Brahmanlah
penguasa tertinggi yang harus kita yakini sebagai umat Hindu. Brahman bersifat
kekal tidak terpikirkan, tidak
berwujud, tidak terbatas, tidak berawal dan tidak pula berakhir yang juga
menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energy, alam semesta dan segala isi yang
ada di dalamnya. Dari konsep diatas dapat kita tarik sumber hukum atau sastra
seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita Adyaya X.20
Aham atma gudakesan Sarva-bhutasaya-stihtah
Aham adis ca madhyam ca Bhutanam anta eva ca.
Terjemahan
:
Aku adalah
sang diri yang ada dalam hati semua mahluk wahai gudakesa, aku adalah
permulaan, pertengahan dan akhir dari mahluk semua.
Alam raya ini merupakan keseluruhan
yang hidup kesaling terkaitan yang maha luas, keselarasan kosmis yang diresapi
dan dihidupi oleh yang maha tinggi. Karena itupula kita sebagai sesama umat
hindu yang berbeda budaya, suku ,dan ras golongan harus tetap memegang teguh
konsep “Tat Twam Asi” sebagai prinsip dasar kita menjalankan dharma agar selalu
hidup berdampingan dan meyakinkan diri kita bahwa badan kasar adalah sebatas
wahana pendakian spiritual yang di yakini oleh umat hindu mulai dari lahir,
hidup, dan mati.
Adakah landasan sastra yang dapat menyatukan agama hindu dalam
perbedaan?
Agama Hindu tentunya sangat
menghargai perbedaan,karena dari perbedaan kita bisa saja menemukan hal yang
baru dalam kehidupan, seperti cara kita melakukan pemujaan atau upacara ritual
keagamaan pada daerah yang berbeda. Dalam hindu kita mengenal konsep Rwa
Bhineda, yang sering
ditentukan oleh faktor ruang desa,kala,patra. Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan suatu kebudayaan
bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh
kebudayaan luar. agama Hindu merupakan agama yang ketiga terbanyak dunia dan
dikenal memiliki sekte yang sangat banyak. Namun agama hindu adalah agama yang
teguh dalam memegang konsep toleransi terhadap setiap sekte dalam hindu, hal
tersebut disebabkan karena agama hindu mengakui satu tuhan dengan banyak nama.
Selain itu Dalam tubuh agama Hindu, perbedaan pada setiap tradisi bahkan pada
agama lain tidak untuk diperkarakan, karena ada keyakinan bahwa setiap orang
memuja Tuhan yang sama dengan nama yang berbeda, entah disadari atau tidak oleh
umat bersangkutan. Dalam kitab Regweda terdapat suatu bait yang sering dikutip
oleh umat Hindu untuk menegaskan hal tersebut, sebagai berikut:
(Ekam
Sat Viprāh Bahudhā Vadanti)
"Hanya ada satu kebenaran,
tetapi para cendekiawan menyebut-Nya dengan banyak nama."
Agama Hindu memandang seluruh dunia
sebagai suatu keluarga besar yang mengagungkan satu kebenaran yang sama,
sehingga agama tersebut menghargai segala bentuk keyakinan dan tidak
mempersoalkan perbedaan suatu tradisi. Agama Hindu bersifat mendukung
pluralisme dan lebih menekankan harmoni dalam kehidupan antar-umat, dengan
tetap mengindahkan bahwa tiap tradisi memiliki perbedaan mutlak yang tak patut
diperselisihkan. Menurut tokoh spiritual Hindu Swami Vivekananda, setiap orang
tidak hanya patut menghargai agama lain, namun juga merangkulnya dengan pikiran
yang baik, dan kebenaran itulah yang merupakan dasar bagi setiap agama. Dalam
ajaran Hindu, toleransi tidak hanya ditujukan pada umat agama lain, namun juga
pada umat Hindu sendiri. Hal ini terkait dengan keberadaan beragam tradisi
dalam tubuh Hinduisme. Agama Hindu memberikan jaminan kebebasan bagi para
penganutnya untuk memilih suatu pemahaman dan melakukan tata cara
persembahyangan tertentu. Seperti Pustaka suci kita Bhagavadgita Bab IV sloka
11 menjamin sebagai berikut:
Ye yathaa maam prapadyante Taamstathaiva
bhajaamy aham
Mama vartmaanuvartante Manushyaah
paartha sarvashah.
Artinya:
Bagaimana
pun (jalan) manusia mendekatiKu, Aku terima, wahai Arjuna.
Manusia
mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.
Bhiku Sasana Bodhi Tera mengibaratkan apapun sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin., dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa Yaitu rasa kebebasan dan kemahardikaan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar