Rabu, 03 April 2019

PLURALISME DALAM HINDU



Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup secara individu karena manusia tidak seperti hewan yang ketika lahir langsung bisa berjalan. dan tentu saja kita berada dialam semesta disertai dengan berbagai macam perbedaan-perbedaan yang Tuhan ciptakan untuk Kita agar bisa saling melengkapi satu sama lain. manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki idep-(pikiran) maka kita harus menjadikan perbedaan sebagai keberagaman . Agama Hindu adalah agama yang sangat pluralisme karena mampu hidup secara berdampingan dengan budaya Hindu pada daerah yang berbeda-beda misalnya: Suku Jawa, Bali, Batak, Dayak, Banjar, Sunda, dll. pluralisme secara etimologi berasal dari bahasa inggris, terdiri dari dua suku kata (plural) = beragam dan ( isme ) = paham, ajaran agama Hindu kita sangat bersifat universal dan memiliki paham yang beragam dalam menjalankan dharma yang berbeda pada setiap daerah.
Agama Hindu adalah agama yang sangat mengenal toleransi terhadap sesama umat Hindu lainnya, dalam agama Hindu kita, sangat banyak ajaran ajaran tentang bagaimana cara kita menjalani kehidupan yang dilandasi dengan dharma, dalam Hindu kita juga mengenal dengan sebuah konsep Tat twam asi    : kamu adalah aku dan aku adalah kamu. kosep ini mengandung filosofi dan sudah terbentuk selama ribuan tahun silam, konsep ini juga lah yang menyebabkan kita semua sebagai mahluk social menjadi rukun. Jika kita mau sedikit meluangkan waktu untuk berfikir akan betapa besarnya kuasa Sang Hyang Widhi wasa yang menjadi unsur penyebab terciptanya alam semesta, maka kita akan mencapai pada hakikat yang sama dan merupakan tujuan dari pada setiap manusia yaitu untuk mencapai pembebasan dari ikatan duniawi atau biasa disebut dengan ( moksa ), moksa merupakan salah satu bagian terakhir dari panca sradha, ( lima hal yang harus kita yakini sebagai umat Hindu ) bersatunya atman dan brahman adalah inti dari tujuan akhir kehidupan kita .
Pengertian “ Tat Tvam Asi “  diatas dapat kita tarik makna bahwa brahman adalah atman itu sendiri. Kita ketahui bahwa sifat dari keduanya (brahman dan atman) adalah sama, (Imanen) tidak terpikirkan, tidak terbayangkan, tidak terbatas,dsb, yang membedakan brahman dan atman yaitu Atman merupakan percikan terkecil dari brahman. Namun atman yang sudah diliputi oleh badan kasar / unsur material akan terikat dengan ikatan duniawi, yang memunculkan ahamkara(ego). Sehingga kita sebagai manusia akan menumbuhkan perspektif yang berbeda bahwa aku dan kamu adalah berbeda disebabkan oleh ego yang bergejolak dalam pikiran manusia, namun di dalam perbedaaan tersebutlah kita sama sama memiliki atman yang menjiwai dan menyebabkan kita menjadi hidup. Jika di analogikan kita bisa mengibaratkan atman  sebagai butiran air hujan dan brahman sebagai air dilautan lepas. Setetes air hujan tidak dapat lagi kita bedakan ketika telah menyatu dengan air dilautan namum tetap hanya ada satu rasa yaitu asin. Analogi tersebut juga sangat mengingatkan kita untuk selalu menanam dan membibit pikiran kita, agar selalu mengangagap bahwa kita semua sebagai mahluk yang sama dan merupakan satu kesatuan yang berasal dari satu sumber kehidupan yang sama ( brahman ).
kita semua tahu bahwa brahman lah sumber dari segala kehidupan setiap mahluk yang ada di alam semesta. Brahmanlah penguasa tertinggi yang harus kita yakini sebagai umat Hindu. Brahman bersifat kekal tidak terpikirkan, tidak berwujud, tidak terbatas, tidak berawal dan tidak pula berakhir yang juga menguasai segala bentuk, ruang, waktu, energy, alam semesta dan segala isi yang ada di dalamnya. Dari konsep diatas dapat kita tarik sumber hukum atau sastra seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita Adyaya X.20

Aham atma gudakesan Sarva-bhutasaya-stihtah
Aham adis ca madhyam ca Bhutanam anta eva ca.
Terjemahan :
Aku adalah sang diri yang ada dalam hati semua mahluk wahai gudakesa, aku adalah permulaan, pertengahan dan akhir dari mahluk semua.


Alam raya ini merupakan keseluruhan yang hidup kesaling terkaitan yang maha luas, keselarasan kosmis yang diresapi dan dihidupi oleh yang maha tinggi. Karena itupula kita sebagai sesama umat hindu yang berbeda budaya, suku ,dan ras golongan harus tetap memegang teguh konsep “Tat Twam Asi” sebagai prinsip dasar kita menjalankan dharma agar selalu hidup berdampingan dan meyakinkan diri kita bahwa badan kasar adalah sebatas wahana pendakian spiritual yang di yakini oleh umat hindu mulai dari lahir, hidup, dan mati.
Adakah landasan sastra  yang dapat menyatukan agama hindu dalam perbedaan?
Agama Hindu tentunya sangat menghargai perbedaan,karena dari perbedaan kita bisa saja menemukan hal yang baru dalam kehidupan, seperti cara kita melakukan pemujaan atau upacara ritual keagamaan pada daerah yang berbeda. Dalam hindu kita mengenal konsep Rwa Bhineda, yang sering ditentukan oleh faktor ruang desa,kala,patra. Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan suatu kebudayaan bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. agama Hindu merupakan agama yang ketiga terbanyak dunia dan dikenal memiliki sekte yang sangat banyak. Namun agama hindu adalah agama yang teguh dalam memegang konsep toleransi terhadap setiap sekte dalam hindu, hal tersebut disebabkan karena agama hindu mengakui satu tuhan dengan banyak nama. Selain itu Dalam tubuh agama Hindu, perbedaan pada setiap tradisi bahkan pada agama lain tidak untuk diperkarakan, karena ada keyakinan bahwa setiap orang memuja Tuhan yang sama dengan nama yang berbeda, entah disadari atau tidak oleh umat bersangkutan. Dalam kitab Regweda terdapat suatu bait yang sering dikutip oleh umat Hindu untuk menegaskan hal tersebut, sebagai berikut:
(Ekam Sat Viprāh Bahudhā Vadanti)
"Hanya ada satu kebenaran, tetapi para cendekiawan menyebut-Nya dengan banyak nama."

Agama Hindu memandang seluruh dunia sebagai suatu keluarga besar yang mengagungkan satu kebenaran yang sama, sehingga agama tersebut menghargai segala bentuk keyakinan dan tidak mempersoalkan perbedaan suatu tradisi. Agama Hindu bersifat mendukung pluralisme dan lebih menekankan harmoni dalam kehidupan antar-umat, dengan tetap mengindahkan bahwa tiap tradisi memiliki perbedaan mutlak yang tak patut diperselisihkan. Menurut tokoh spiritual Hindu Swami Vivekananda, setiap orang tidak hanya patut menghargai agama lain, namun juga merangkulnya dengan pikiran yang baik, dan kebenaran itulah yang merupakan dasar bagi setiap agama. Dalam ajaran Hindu, toleransi tidak hanya ditujukan pada umat agama lain, namun juga pada umat Hindu sendiri. Hal ini terkait dengan keberadaan beragam tradisi dalam tubuh Hinduisme. Agama Hindu memberikan jaminan kebebasan bagi para penganutnya untuk memilih suatu pemahaman dan melakukan tata cara persembahyangan tertentu. Seperti Pustaka suci kita Bhagavadgita Bab IV sloka 11 menjamin sebagai berikut:

Ye yathaa maam prapadyante Taamstathaiva bhajaamy aham
Mama vartmaanuvartante Manushyaah paartha sarvashah.
Artinya:
Bagaimana pun (jalan) manusia mendekatiKu, Aku terima, wahai Arjuna.
Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.


Bhiku Sasana Bodhi Tera mengibaratkan apapun sungainya, dari mana pun asal sumber alirannya, ketika sampai di laut hanya ada satu rasa. Hanya ada rasa garam, rasa asin., dari keyakinan yang beraneka-macam itu, kebenaran sejati sesungguhnya hanya ada satu rasa Yaitu rasa kebebasan dan kemahardikaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Degradasi Moral Pada Zaman Kali menurut Hindu

Gusmangrasta -  Agama Hindu adalah agama tertua yang ada di muka bumi ini. dikatakan demikian karena ajarannya yang akan terus rel...